“Lebay”? Boleh saja.

(-)………………..netral………………..(+)

Gambar diatas adalah gambar 2 kutub. Kutub positif dan kutub negatif.

Sebelumnya liat dulu beberapa kasus ini.

Kasus 1.
Pernah gak sih kita bertemu teman lama, teman satu sekolahan, entah teman SMP, SMA atau teman Kuliah. Tapi dia tidak mengenali kita. Saya yakin diantara kita pernah mengalaminya.

Kasus 2.
Pernahkah kita berbicara di depan umum, presentasi, atau mengajar. tetapi audien yang kita tuju tidak memperhatikan kita Atau materi yang kita berikan tidak di ingat oleh audien. Pasti salah satu diantara kita pernah mengalaminya.

Kasus 3.
Malam ini tahun baru Masehi dirayakan di seluruh penjuru dunia. Setiap kota berlomba-lomba merayakan. Mereka menawarkan berbagai hiburan, menyuguhkan bermacam-macam kemeriahan.

Ketiga kasus itu mempunyai sebuah kesamaan dalam hal komunikasi.

Dalam ilmu komunikasi ada dua kutub.

1. Kutub negatif sebagai wujud dimana kita menunjukan kekurangan kita untuk menarik perhatian orang lain.

2. Kutub Positif sebagai wujud dimana kita menunjukan kelebihan kita untuk menarik perhatian orang lain.

Kedua kutub ini sangatlah efektif untuk kita gunakan agar kita tetap di ingat oleh teman-teman lama kita (lihat kasus 1), diperhatikan oleh lawan bicara kita (lihat kasus 2) atau keduanya (untuk menarik perhatian orang dan menciptakan momen yang tak terlupakan-kasus 3).

Untuk penerapannya kita coba tengok kembali beberapa hal.

Eisnteins, james watt, ibnu sina, dll. Mereka dikenal dan diingat banyak orang. Karena kelebihan menonjol yang mereka miliki.

Mr. Bean, budi anduk, carlie caplin, tukul arwana mereka komedian. Klo boleh saya mengatakan. Mereka di kenal dan diingat karena kekurangan yang mereka miliki.

Ok, mereka dikenal dan diingat karena mereka memang public figure. Tapi bisa diyakini teori kedua kutub ini juga mempengaruhinya.

Mungkin teori ini dapat menjawab pertanyaan, mengapa belakang muncul orang-orang yang bertingkah belebihan, alay atau lebay. Ya, mereka ingin menarik perhatian, dan tetap dikenang.

Berlebihan tak selamanya buruk, jujur terkadang saya juga berlebih di depan teman-teman saya. Alasan kuat saya memang untuk mengambil perhatian mereka, setidaknya saat belasan tahun kemudian, setelah kita tak bertemu untuk waktu yang lama, dia akan tetap mengingat saya. Meskipun sikap berlebihan saya yang diingat.

Mengapa harus berlebihan? Tidak ada kah cara lain?

Kembali ke teori dua kutub tadi. Klo saya tidak ingin diingat sebagai orang yang berlebihan, saya harus menyederhanakan diri, sehingga mereka akan mengingat saya sebagai teman paling sederhana yang mereka miliki. Tapi sederhana itu bukanlah hal yang mudah.

Ingat juga, berlebihan boleh, selama kita mampu melakukannya, jangan pernah berlebihan diluar kemampuan kita.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s