Secuil Kenangan Saya Dari Almarhumah

Customer dari HCD (Hans Creative Design) memang berasal dari berbagai wilayah di Jakarta. Ko Athin merupakan salah satu customer HCD yang tinggal di Jl. Sukarela Pluit Jakarta Utara. Dia Tinggal diperkampungan penduduk. Rumahnya paling bagus diantara rumah orang-orang di sekitar sana. Tapi sangat disayangkan, setiap saya kesana, sepeda motor saya tidak dapat parkir langsung di depan rumahnya karena harus memasuki gang sempit yang hanya bisa di lalui oleh satu sepeda motor saja. Sehingga terpaksa saya parkirkan sepeda motor saya di salon depan gang tersebut.

Awalnya saya risih karena setiap saya kembali ke tempat parkir sepeda motor saya, selalu ada beberapa waria pegawai salon yang duduk-duduk diatas sepeda motor saya. Bahkan terkadang mereka menggoda saya.

Suatu saat karena saya takut digoda oleh waria-waria itu lagi saya putuskan untuk membawa masuk motor saya ke dalam gang. Karena gang terlalu sempit akhirnya saya ditegor oleh seorang ibu setengah baya. Ibu ini agak gemuk, berkulit kuning langsat khas orang indonesia. Ternyata ibu setengah baya itu pemilik warung makan di depan salon. Dia meminta agar motor saya tidak di bawa masuk. Dia meyakinkan kepada saya klo saya membawa masuk motor kedalam gang, saya akan kesulitan saat keluar gang. Benar juga sih kata ibu itu. Tapi saya juga tidak mau digoda lagi sama waria-waria itu. Lalu saya pun bercerita tentang waria-waria yang menggoda saya kepada ibu itu.

Akhirnya ibu setengah baya itu mengerti saya, tetapi dia tetap melarang saya membawa masuk sepeda motor saya. Dia meyakinkan saya, klo sepeda motor saya akan aman parkir di depan salon dan waria-waria itu tidak akan menggoda saya lagi. Akhirnya saya mengalah, saya percayakan semua pada ibu itu. Ternyata benar, entah apa yang ibu itu katakan kepada waria-waria itu. Kali ini mereka tak menggoda saya. Hari berikutnya juga demikian. Hingga berkali-kali saya parkir di depan salon itu, waria-waria itu sudah tidak menggoda lagi.

Hari itu adalah awal saya mengenal Ibu itu, wanita setengah baya itu Bernama Munaroh, pemilik warung pekalongan depan salon. Kami pun mulai akrab. Setiap saya datang ke tempat Ko Athin saya selalu sempatkan mengobrol bersama ibu Munaroh dan beberapa karyawannya. Saya bercerita tentang banyak hal kepadanya, tentang saya dan pekerjaan saya. Ibu Munaroh juga bercerita banyak tentang dirinya dan anak-anaknya yang sudah berkeluarga. Kami mulai akrab.

Puasa tahun ini saya ke rumah Ko Athin senja menjelang magrib. Niat saya sih sekalian mencari menu buka puasa di daerah Pluit. Seperti biasa saya bertemu ibu Munaroh lagi. Sepulang dari rumah ko Athin saya putuskan untuk berbuka puasa di warung bu Munaroh. Kami mengobrol kesana kemari, tak terfokus pada satu topik saja. Hingga dari mulut bu Munaroh terceltuk kata-kata.

“Bos, nanti klo Lebaran saya minta THR ya! Kaos boleh, kemeja boleh bahkan di kasih Kafan pun saya siap. Yang penting THR dari kamu bos.”

Yups, memang bu Munaroh sering sekali memanggil saya dengan panggilan bos, sebenarnya bukan saya saja yang di panggil bos. Dia memanggil hampir semua tamu warungnya dengan sebutan Bos.

Mendengar kata-kata bu Munaroh itu saya sempat memledeknya. “Kalo saya gak ngasih gmn bu?”

“Nanti banci-banci itu saya suruh ganggu si Bos lagi lho!”

“Hahahaha,….” saya tertawa terpingkal-pingkal bersama dia.

Tapi sayang setelah hari itu, ternyata hari itu order terakhir di tempat Ko Athin. Sehingga setelah hari itu saya tidak pernah lagi berkunjung ke rumah Ko Athin sampai HCD buka lagi setelah Lebaran.

Seminggu sudah saya mulai bekerja lagi. Alhamdulillah order juga sudah mulai berdatangan. Termasuk order dari ko Athin. 4 hari saya parkir di depan salon dan melewati warung makan bu Munaroh. Empat hari juga saya tidak melihat warungnya jualan. Saya rasa bu munaroh masih di Kampungnya, di Pekalongan. Hari ini dari kejauhan saya lihat seorang waria berdiri di dekat sepeda motor saya. Saya agak takut mendekat, tapi bagaimana lagi. Tiba-tiba waria itu berkata pada saya.

“Mas, udah denger belum klo bu munaroh meninggal?”

Spontan saya kaget. Percaya sekaligus ragu dengan ucapan waria itu.

“Meninggal? Innalillahi”
“Bagaimana ceritanya sis?”

Waria itu bercerita, sebelum lebaran kemaren, bu Munaroh masuk rumah sakit karena serangan jantung. Tidak lama di rumah sakit, ternyata dia meninggal. Dan dimakamkan di kampung halamannya. Hingga sekarang belum tau siapa yang mau meneruskan warung makannya.

Ada yang mengganjal di hati saya. Teringat saat guraunnya kepada saya meminta THR belum sempat saya penuhi. Ada sedikit penyesalan bercampur rasa kecewa terhadap diri sendiri. Mungkin itu permintaan terakhirnya pada saya yang saya tidak bisa mengabulkannya. Padahal hanya sebuah kaos.

Semoga engkau diterima di sisi Allah, dan di ampuni segala dosanya. Aamiin ya robbal alamin…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s